Kenapa Harus Dia
Kenapa harus Dia?
Rasanya
baru saja Vania memejamkan mata. Tapi suara alarm sudah berbunyi, berusaha
membangunkannya. Matahari sudah mulai mengintip dari balik gorden jendela kamar
Vania. Hari ini Vania sengaja menyetel alarmnya agak siang, karena ia sedang
tidak mengerjakan ibadah wajib umat Islam. Ya, ia sedang kedatangan tamu
bulanan.
Vania
mengerjapkan matanya, berusaha menyesuaikan mataya dengan keadaan sekitarnya yang
sudah mulai terang. Saat ia hendak berjalan ke kamar mandi, ia merasa kepalanya
berat. Seperti ada yang bergelantungan pada kepalanya. Saat ia mulai berjalan
lagi, ia sempoyongan dan akhirnya menyandarkan tubuhnya pada dinding terdekat.
Ia tidak sanggup lagi. Ia bersumpah. Sepertinya Vania tak akan masuk sekolah
hari ini.
Setelah
itu ibunya datang, meraba dahi dan leher
Vania lalu memapahnya kembali ke tempat tidur. Vania demam. Akhirnya ibunya
merebahkan kembali tubuh Vania.
Saat
Vania sudah setengah tertidur, ia tiba-tiba teringat sesuatu. Hari ini adalah
giliran presentasi kelompok Vania dalam
pelajaran PPKN. ‘Oh My God, It’s bad’,
katanya dalam hati. Vania harus ikut presentasi, ia tidak bisa meninggalkan kelompoknya
begitu saja. Apalagi semua bahan presentasi ada pada Vania. Bisa mati dirinya
jika ia tidak masuk hari ini.
Maka
dengan langkah berat, ia kembali berusaha bangkit menuju kamar mandi. Setelah
mandi, ia langsung berpakaian dan memakai sepatu. Ia harus cepat, karena tadi
ia sudah bangun siang dan sempat berbaring sebentar. Setelah siap, Vania
meminta ibunya mengantarnya ke sekolah. Dengan berat hati, Ibu Vania
mengizinkan anaknya tersebut berangkat sekolah dengan perjanjian, jika Vania
sudah merasa tidak kuat, ia harus langsung menelpon ibunya. Vania mengiyakan
permintaan ibunya tersebut. Menimang itu bukan permintaan yang sulit, yang
penting ia di perbolehkan sekolah hari ini.
Vania
sampai di sekolah tepatnya 5 menit setelah bel masuk berbunyi. Nyaris saja. Ia
melangkah gontai menuju kelasnya yang berada di pojok. Ya, walau kelasnya bukan
kelas paling akhir, tapi kelasnya berada di pojok. Karena gedung kelas 12 A-C
berbeda dengan gedung kelas 12 D-J. Ugh,
terkadang ia merasa senang akan keberadaan kelasnya yang dipojok. Karena untuk
beberapa waktu, itu adalah tempat yang strategis. Tapi untuk sekarang, itu
bukan tempat yang benar-benar strategis.
“Vania
sayaaaang….kemana aja? Baru dateng jam segini?” Baru saja Vania memasuki
kelasnya, ia sudah di sambut dengan teriakan riang teman sebangkunya itu. Ia
masih saja melangkah gontai menuju bangkunya yang sekarang berada di pojok.
“Iya,
kenapa sih lo Van? Udah jalannya kayak males gitu lagi?” Zizi ikut menyahut.
“Bu
Lela belum masuk?” Vania malah balik bertanya, pada siapapun yang mendengar
pertanyaannya. Matanya tak fokus. Wah, ini gawat. Tempat duduknya hari ini
sangat strategis untuk membuatnya terlelap dengan mudah, ditambah keadaannya
yang sedang demam.
Baru
saja Vania mendudukan bokongnya pada kursinya saat Annisa menjawab, “Belum.
Baru aja bel.” Mendengar itu, Vania langsung melipat kedua tangannya dan
menyembunyikan wajahnya di balik tangannya tersebut, berusaha terlelap.
***
“Assalamu’alaikum
warahmatullahi wabarakatuh,”
Giliran
kelompok Vania presentasi akhirnya tiba. Semua orang yang berdiri di depan
kelas memberi salam dengan kompak. Tak terkecuali Vania, walau suaranya tidak
sekeras yang lainnya. Hilmy, sebagai juru bicara mulai membuka presentasi,
“Kami dari kelompok 8 akan mempresentasikan tentang Perang Puputan Margarana…”
Selagi
itu, Vania merasa ada yang tidak beres dengan dirinya. Kepalanya pusing luar biasa,
ia mulai kehilangan kontrol, jadi ia melangkah ke belakang, mencari sandaran.
Melihat
itu, Bu Lela segera mendekati Vania dan merasakan tubuh Vania panas. Bu Lela
memapah Vania ke tempat duduk terdekat. Vania hanya mengikuti gurunya, ia tak
peduli.
Sampai
akhirnya Bu Lela memutuskan untuk mengantar Vania pulang. Vania berusaha
menolak, tapi akhirnya menyerah karena mamanya tak kunjung menjawab telepon
Vania. Presentasi tetap dilanjutkan selagi Bu Lela mengantar Vania pulang
dengan catatan, tidak boleh ada yang keluar kelas sebelum waktunya istirahat.
Baru
berjalan sampai di depan kelas 12-B, ponsel Bu Lela berbunyi, ada telepon. Bu
Lela menyuruh Vania duduk selagi Bu Lela menjawab teleponnya. Dari yang tidak
sengaja Vania dengar, seseorang mengharapkan kehadiran Bu Lela di tempat lain,
sesegera mungkin.
Vania
tak tahu, harus merasa senang atau tidak. Ia senang karena tidak perlu
merepotkan Bu Lela, tapi di lain sisi, ia takut, kepada siapa Bu Lela akan
melempar dirinya?
Bu
Lela merasa bingung, ia dipanggil ke ruangan kepala sekolah sekarang, tapi
siapa yang akan mengantar Vania pulang? Kasian jika ia harus pulang sendirian.
Pada
saat yang bersamaan, Aldian keluar dari kelasnya, hendak membuang sampah lalu
duduk di depan kelasnya, main HP, karena kelasnya sedang free class. Ia tidak tahan berada di dalam kelas, berisik, seperti
di pasar.
“Aldian!”
Seseorang memanggil namanya. Ia memutar kepalanya, mencari orang yang
memanggilnya. Ternyata Bu Lela dan sebelahnya ada…Vania. Ia tidak mungkin
salah, itu Vania.
Bu
Lela menggerakan tangannya, menginsyaratkan Aldian untuk mendekat. Aldian
mematuhinya.
“Kamu
tolong anterin Vania pulang ya, Ibu harus ke ruang kepala sekolah sekarang.
Nih, pakai mobil ibu saja. Kamu bisa kan?”
Vania
kaget. Begitupun Aldi.
‘Kenapa
harus dia?’ keduanya berkata dalam batin masing-masing.
***
Pada
akhirnya Aldi memapah Vania menuju mobil Bu Lela setelah Bu Lela menjelaskan
keadaan yang terjadi. Ia mau tidak mau menuruti perintah gurunya tersebut. Aneh
memang, seorang guru menyuruh siswanya menyetir mobilnya. Tapi ini emergency, eh gak juga sih.
Setelah
sampai di parkiran, Aldi membukakan pintu penumpang dan Vania masuk, hening.
Lalu Aldi masuk ke kursi pengemudi tanpa berkata apa-apa, ia menjalankan mobil
tersebut ke rumah Vania. Sedangkan Vania sendiri, setelah masuk mobil, ia
langsung menyandarkan tubuhnya dan memandang ke luar jendela. Ia bingung,
antara senang, kesal dan lelah. Ia hanya ingin cepat sampai rumah dan berbaring
di kasurnya. Jadi ia hanya duduk disana, tanpa mengatakan apa pun.
Sampai
di gerbang sekolah, mobil berhenti, ia baru ingat sesuatu. “Rumah lo di mana?”
tanya Aldi, berpura-pura tidak tahu. Padahal ia sudah tahu betul jawabannya.
Aldi tak ingin Vania curiga atas pengetahuannya tentang kediaman wanita itu.
“Wiratama.”
Vania menjawab pelan, hampir tidak terdengar.
“Pilang?”
Aldi bertanya lagi, meminta kejelasan. Vania hanya mengangguk. Langsung saja
Aldi memutar setirnya ke arah kanan.
Keadaan
sunyi, jalanan sepi. Yang satu fokus pada jalanan, sedangkan yang satunya sudah
tertidur pulas. Aldi melihat Vania cemas. ‘Dia
kenapa?’ katanya dalam hati. Aldi cemas, cemas sekali. Tapi ia tidak
menunjukannya. Ia terlalu gengsi, apa yang akan Vania fikirkan nanti
tentangnya?
Ia
merasa aneh, dulu, saat Vania mengobrol dengannya di lapangan, ia begitu
bersemangat mengatakan ketampanan seorang Aldiansyah. Tapi sekarang, mukanya
pucat dan benar-benar lemah. Jujur saja, ia merasa sedikit kesusahan tadi saat
memapah Vania. Menandakan bahwa Vania sudah tidak mempunyai tenaga lagi untuk
sekedar menopang bobot tubuhnya sendiri.
Vania
yang sedari tadi tertidur menghadap ke jendela sekarang menggerakkan kepalanya
ke arah kanan, arah Aldi. Ia menggumamkan sesuatu, masih dengan mata tertutup.
Vania mengigau rupanya. Bisa ya, orang
sakit ngigau? Aldi membatin.
Suaranya tidak begitu jelas, tapi Aldi dapat mendengarnya. Sebuah nama.
Vania mengatakan sebuah nama.
“Bang
Noval….Bang Noval…………..Bang Noval mana?” Vania kembali mengigau. Kali ini
sambil bergerak-gerak gelisah. Aldi heran, Bang
Noval siapa? Ia tidak pernah mendengar nama itu sebelumnya. Tentu saja ia
pernah mendengar nama Noval sebelumnya, tapi tidak pernah tahu bahwa Vania
memiliki saudara bernama Noval. Tunggu, Vania tadi bilang Bang Noval? Berarti
kakak. Ia tahu Vania punya adik, tapi kakak? Ia yakin Vania tidak mempunyai
kakak.
“Bang
Noval…..” Sekarang Vania berkata sambil seperti merengek, dan ada cairan yang
keluar dari matanya.
Jelas,
Aldi kaget dibuatnya. Kenapa lagi dia, Ya
Tuhan? Gue ga ngapa-ngapain dia dari tadi.
Aldi melirik Vania tanpa menghilangkan konsentrasinya pada jalanan.
Apa yang harus ia lakukan? Ia ingin membangunkan Vania, tapi ragu juga. Karena
ia tidak terlalu dekat secara sosial, walau Aldi sudah mengetahui segala hal
tentang Vania.
Tangis
Vania semakin menjadi. Air matanya semakin banyak, suaranya semakin kencang,
dan sesenggukan. Aldi semakin cemas. Ia terpaksa meminggirkan mobilnya ke
pinggir jalan, karena ia sudah tidak bisa konsentrasi lagi pada jalanan.
“Van….
Vania…” ucap Aldi sambil menepuk pelan bahu Vania. Tapi tak ada reaksi apa-apa.
Aldi
mencoba lagi, kali ini lebih sedikit lebih keras. Sedikit. “Vania… bangun Van…
Lo kenapa?” Vania tetap saja menangis. Aldi jadi semakin cemas.
“Vania,”
Aldi kembali mecoba dan mengguncang tubuh Vania pelan.
Perlahan,
tangis Vania mereda. Matanya sudah terbuka, menatap Aldi dengan bingung karena
Aldi memgang kedua bahunya.
“So-sorry,” Aldi kembali pada posisinya
di kursi pengemudi. “Tadi lo ngigo.”
Vania
memperlihatkan ekspresi bingung. Ia merasa pipinya basah, ia menangis?
Komentar
Posting Komentar