Flashback #2: Seleksi Pengurus Osis SMP
Assalamu’alaikum…..
Ini
ceritanya flashback season 2, haha.
Iya, kelanjutan yang kemaren. Kalau kemaren aku cerita tentang MOS, yang
artinya aku kelas VII, sekarang aku akan
menceritakan sebuah kisah yang lebih menyenangkan dan mengharukan di kelas
VIII!
Kalau
inget kelas VIII, banyak banget kenangannya. Lebih seru juga, soalnya tahun itu
aku juga menjadi pengurus OSIS. Tahu gak, aku pengen banget jadi pengurus OSIS.
Pas kelas
VII, aku gak ngerti apa-apa yang namanya OSIS. Tapi lama-lama, jadi pengen, seru aja kayaknya, keliling sana-sini,
banyak kerjaan. Karena saat itu juga aku lagi gak ada kegiatan lain selain
sekolah. Jadi pengen sekalian nambah kegiatan aja.
Waktu di
umumin ada pemilihan pengurus OSIS, aku semangat banget. Walau aku gak ngerti apa-apa.
Bahkan aku aja gak hafal siapa aja pengurus OSIS yang masih menjabat waktu itu.
Aku juga gak inget dan gak ngerti tugas dari masing-masing seksi bidang
(sekbid) di kepengurusan OSIS, walau udah dijelasin sama kakak kelasnya. Ya
ampun, aku masih polos banget waktu itu.
Sampai
tiba pada hari terakhir pengumpulan formulir pengurus OSIS, aku belum
memutuskan akan memilih sekbid apa. Padahal formulir sudah siap, sudah di tanda
tangani olehku, orang tua, serta wali kelasku.
Aku sempat
beberapa kali nanya sama temen, tapi masih ragu juga. Karena aku gak yakin sama kemampuanku sendiri, akan lebih berguna
dimana aku. Gimana coba aku tuh ya?
Pengumpulan
formulir berakhir saat waktu istirahat pertama berakhir. Waktu bel istirahat
pertama berbunyi, aku langsung menemani temanku meminta tanda tangan wali
kelas, lalu kami berdiri di hadapan mading yang berisi paparan sekbid dan
masing-masing tugasnya.
Aku tuh
berdiri melongo aja di situ. Trus sampe ada kakak kelas yang nanyain, “Mau
masuk OSIS, Dek?”, aku jawab, “Iya.”. Trus
kakak kelasnya nanya lagi,”Sekbid berapa?” aku hanya menggelengkan kepalaku.
Tiba-tiba
bel masuk berbunyi, sebenarnya aku sudah memilih dua pilihan, gatau apa lupa
satunya, trus akhirnya aku pilih sekbid 8, yaitu Mading. Kami berdua langsung
berlari ke kelas kakak pengurus OSIS yang di tugasi mengumpulkan formulir itu,
namanya Ka Ranti. Masuk kelas Ka Ranti, takut-takut gitu, ternyata Ka Rantinya
lagi ngobrol ngerumun sama temen-temennya, pas aku kasih mukanya asem banget,
sebel.
Sampai
hari seleksi OSIS tiba, semuanya baris. Di bawah terik matahari. Aku sih biasa
aja sebenernya, gak sebel tapi gak seneng juga. Sampai di kelas, tegang tuh
kan, pada diem semua. Di depan ada empat kakak kelas. Aku gatau sama sekali.
Malahan gak pernah liat muka mereka sama sekali. Ya ampun, aku jahat banget
sama mereka. Dan ternyata mereka adalah anggota sekbid 8 ini. Gillaaa banget. Mereka yang gak terkenal atau aku yang
kudet?
Nah,
kenalan kan tuh, aku gak inget pula namanya. Tapi aku inget koornya namanya Ka
Agnes. Dan seleksi itu berlangsung satu minggu, aku sempet maju beberapa kali
dan hasilnya ga memuaskan.
Sampai
hari-hari terkahir, udah tinggal beberapa orang. Suruh bikin mading dalam waktu
semalem. Sebel kan? Ya, aku bikin lah akhirnya. Lumayan hasilnya, walau pas aku
liat yang lain, ternyata lebih bagus. Ngiler kan, down deh jadiya. Eh, gak juga sih. Tapi gak optimis juga.
Mulai
seleksinya, mading yang udah di bikin suruh dikumpulin. Selagi kakak kelasnya
liat-liat, kita suruh bikin proker (program kerja). Astagfirullah….apaan lagi
ini… Aku ga ngerti sumpah. Diam lah aku memandangi kertas kosong yang ada di
hadapanku. Udah aku duduknya sendirian pula. Mampus.
Beberapa
menit kemudian, aku baru menuliskan beberapa kalimat di kertas tersebut, Ka
Agnes manggil Frida buat bacain prokernya di depan. Majulah Frida dan beberapa
orang lainnya. Untung aku gak di suruh maju.
Selesai
itu, kakak kelasnya ngumpul dan masing-masing kakak kelas bawa satu mading
(Waktu itu ada kakak kelas lain yang bantuin, jadi banyak) dan nyamperin sang
pembuat mading tersebut. Aku kebagian Ka Salsa (kalau gak salah) yang terkenal
paling galak dan eksis.
Ditanya-tanyalah
akhirnya, sambil marah-marah. Dan lebih banyak ngejelekinnya sih.
“Niat ga
sih masuk sekbid 8?!”
“Ini apaan
lagi nih! Tulisannya kecil-kecil banget!”
“Masuk
OSIS pengen eksis aja ya?!”
“Jawab
kalau ditanya!! Emang ga punya mulut!!!”
Seperti
itulah kira-kira perkataan Ka Salsa dan kakak kelas lainnya. Kalian tahu? Itu
belum apa-apa. Puncaknya adalah ketika
sudah selesai acara marah-marahnya, mading yang sudah kubuat semalaman itu…
DIROBEK menjadi kepingan-kepingan kecil hingga akhirnya tergeletak dilantai
seperti SAMPAH. Semua kakak kelas melakukannya serempak. Aku saat itu hanya
diam saja, tapi teman ada yang sampai menangis. Wajar.
Kenapa aku
ga nangis? Hmm, ga tahu juga sih.
Eh bentar,
aku lupa kelanjutannya gimana. Pokoknya sih abis itu kita disuruh baris dan
tutup mata. Masih dengan mata tertutup, aku dan beberapa temanku (waktu itu aku
gak tahu berapa orang) diarahin berjalan, gatau kemana tapi udah nebak-nebak gitu.
Dan ternyata kita masuk ke ruang pertemuan.
Kita
berdiri cukup lama disitu dan masih tutup mata. Saat akhirnya kita boleh buka mata,
ternyata disitu ada anak lima anak dari setiap sekbid yang nyalonin jadi
pengurus OSIS. Jadi ada 10 banjar dengan masing-masingnya lima baris
kebelakang. Waktu itu belum dikasih tahu apapun, jadi yaudahlah ngikut aja kita.
Lalu ada
lima orang siswa yang nyalonin jadi ketua osis yang akan presentasi didepan.
Dan kita, lima anak dari 10 sekbid itu hanya disuruh mengobrol dan membuat
keributan saat lima calon ketua OSIS itu presentasi.
Nah,
disitu aku udah nebak-nebak kan. Apa aku
kepilih? Tapi gamau ge-er jugaaa…. Gimana sih yaaa...kalian ngertilah
pasti… Pokoknya dilema banget waktu itu.
Selesai
pada presentasi, kita sekbid 8 pulang duluan dari ruang pertemuan ke kelas
tempat kita seleksi. Nah, kan kita kan seleksi ada delapan orang (kalau gak
salah) dan sampai dikelas, tiga orang lainnya yang gak ikut ke ruang pertemuan udah
gak ada.
Temanku
yang ikut seleksi juga gak ada. Dia ada didepan kelas, bersama temanku yang lain
dan dadah-dadah ke aku sambil senyum-senyum gak jelas. Nah, kenapa coba?
Sampai dikelas,
kita berlima disuruh membersihkan kelas dari sampah-sampah mading yang
berserakan di lantai yang tadi dirobek kakak kelas. Yaudahlah, nurut aje. Tapi kita berlima tetep masih mempertanyakan
nasib kita tuh disitu. Yaiyalah gimana enggak kan?!
Yang lain
udah pada pulang, sekolah sepi, kita tinggal berlima doang masih ditahan suruh
bersihin kelas. Yang membuat kita tidak ber-positive
thingking bahwa kita itu terpilih adalah, kita disitu berlima sedangkan pengurus setiap sekbid waktu itu empat
orang. Nah loh?
Udah
bersih semua, kita disuruh duduk dan tutup mata, lagi. Duuuuh….. apa lagi
coba…… Pegel nih. Tapi setelah beberapa menit, akhirnya kita boleh membuka mata
dan di papan tulis tertera dengan jelas…
KOOR :
FRIDA
SEKRETARIS
: VIDELVA
ANGGOTA 1 :SALWA
ANGGOTA 2
: ALDILA
ANGGOTA 3 : SYAFITRI
Disitu aku
langsung nangis, beneran. Beneran sumpah gak bohong. Kayak pen teriakkk.…tapi gak bisa dan…jadinya nangis.
Ya Allah….
Alhamdulillah pisaaan waktu itu tuh, gak nyangka bangettt…. Salah satu impian
aku terwujud jugaaa…..masyaallah… Ini gatau mau ngomong apa lagi beneran.
Pokoknya
abis itu diselamatin sama para kakak kelas yang daritadi marah-marahin kita.
Seneng pokoknya mah. Akhirnya aku bisa buktiin kalau aku bisa,
aku ikut berprestasi diluar kelas, walau gak seberapa. Padahal gak yakin
bakal kepilih, soalnya aku kan jarang ngacung, kalau maju juga jawabnya
pas-pasan dan ada mading yang lebih bagus daripada aku tapi aku terpilih juga
akhirnya.
Ternyata
eh ternyata, kepengurusan OSIS tahun aku itu setiap sekbid ada sekretarisnya,
jadinya lima orang. Sedangkan tahun lalu itu cuma ada empat orang. Oalahh….
Aku cuma
mau ngucapin terima kasih banyak-aku tau
ini telat banget karena aku udah lama lengser tapi bodo amat-buat semuanya,
terutama Allah SWT dan kedua orang tua aku. Selebihnya, gak banyak sih yang
ngedukung.
Aku ikut
prihatin juga buat temenku yang nyalonin di sekbid lain tapi gak kepilih,
padahal dia berpotensi banget, tapi kayaknya belum waktunya aja. Fyi aja, dia jadi ngomel trus ke aku
karena yang kepilih malah adik kelas dia yang menurut dia gak ada apa-apanya dibanding
dia. Maaf gak bermasud ngomongin, tapi kalau inget itu tuh lucu aja jadinya. Dia punya tempatnya tesendiri di memoriku.
Segini
dulu ya… kita sambung lain waktu…
Salam
cintah,
@syafitrir
Komentar
Posting Komentar