Kebersamaan = Kebahagiaan!
Hari ini,
6 Desember 2016, aku merasa sangat-sangat bersyukur. Aku ngerasain sendiri apa
itu kebersamaan. Apa itu berbagi. Hal sangat indah yang selama ini dianggap
enteng oleh sebagian orang yang belum pernah menikmatinya. Aku kasihan pada
mereka. Sungguh.
Jadi
begini, sepertinya minggu-minggu ini merupakan salah satu masa-masa terburukku
selama aku hidup di dunia ini. Apakah itu terdengar menyeramkan? Berlebihan? Atau
bagaimana?
Aku tahu,
aku baru saja akan menginjak usia enam belas tahun bulan ini, tapi sepertinya
aku sudah memiliki banyak kenangan buruk. Aku tak tahu apakah kalian akan
menganggapnya sebagai kenagan buruk, tapi bagiku, yang melewatinya sendiri
dengan nafasku, itu merupakan kenangan buruk. Aku masih seorang remaja, mendapat lirikan tajam dari seorang kakak
kelas pun termasuk kenangan buruk. Sudahlah lupankan.
Ada
beberapa kejadian yang aku sesalkan, aku sebalkan, aku senangkan beberapa
minggu ini. Aku akan merangkumnya untuk kalian. Tenang.
1. Minggu
ini aku ada UAS
2. Aku
selalu merasa pusing setiap di sekolah, walau aku masih bisa mengontrolnya.
Mungkin ini karena aku tidak pernah sarapan setiap harinya. Dan baru makan pada
sore harinya.
3. Aku juga
merasakan dadaku semakin sakit setiap harinya. Nafas sesak, dan cepat lelah.
Aku bahkan tak sanggup naik angkot terlalu lama. Kepala ini akan menjadi
semakin berat dan mual.
4. Ban
motorku tiba-tiba saja bocor, jadi aku harus naik naik angkot ke sekolah dan
percayalah, itu adalah hal terakhir yang aku inginkan di dunia ini.
5. Jadi
initinya, selama beberapa hari ini, aku bangun terburu-buru pada pagi hari,
naik angkot yang ngetemnya lama dan akhirnya sempit-sempitan di angkot. Turun
angkot sudah jam tujuh, tapi aku gak peduli jadi aku tetap berjalan santai ke
sekolah yang jaraknya cukup jauh dari jalan raya. Sampai kelas, kepalaku sudah
mulai pusing. Selesai pelajaran pertama aku gak bisa dan gak mau beli jajan
walau waktu istirahatnya satu jam sekalipun karena masih banyak materi yang
harus kuhafal. Dengan kepala yang pusing, gak semuanya bisa masuk. Pulangnya,
aku kembali jalan jauh sehingga dadaku sakit dan nafasku sesak, menunggu angkot
lama, lalu naik angkot lama lagi sampai kepalaku tambah pusing dan mual.
Lima
hal diatas sepertinya terdengar menyeramkan ya? Terlalu lebay memang jika
dituliskan begini, tapi memang begitu kenyataannya.
Dan
terlepas dari itu, aku mau menceritakan hari terakhir UAS Semester satu
kemaren. UAS berakhir adalah sesuatu yang sudah ditunggu-tunggu semuanya, tapi
seperti yang sudah aku bicarakan di tulisanku sebelumnya, kita masih belum bisa
bernafas lega.
Kalau
mau dikatain lebay, ya udah deuh, bodo amat yak. Ini kan pake Bahasa aku
sendiri nih, yang menandakan aku emang begini orangnya. Sip, lanjuut.
Gatau
apa karena ini hari terakhir UAS jadi badan ini terasa lebih rileks. Kepala
juga lebih ringan. Dan setelah keluar kelas pukul sepuluh (kalau gak salah),
aku dan beberapa temanku duduk di depan ruang TU. Gak tahu mau kemana. Pengen
pulang masih kepagian, pengen jalan juga uang pas-passan. Dan untuk aku
sendiri, gak tahu apa aku sanggup. Tapi males juga pulang ke rumah, mau ngapain
coba?
Jadi
setelah kami berbincang cukup lama sambil memanfaatkan wifi sekolah, kami
memutuskan jalan kaki ke Grage, mall
terdekat dari sekolah kami. Kami memutuskan untuk jalan karena jjika naik
angkot itu harus ngongkos dan kitanya juga harus tetep jalan ke jalan rayanya.
Rencananya kita mau nyobain seblak yang di belakang Grage, setelahnya hanya
lihat-lihat di Gramedia.
Aku
agak bimbang waktu itu, karena yak arena kondisiku waktu itu, gak yakin
sanggup. Tapi kalau mau pulang nanti jalannya sendirian akunya. Males banget
kan?
Gak
bilang aku waktu itu kalau aku pusing segala macem, cuman ngulur waktu mereka
sambil akunya mikir-mikir lagi, ikut atau enggak. Soalnya itu jaraknya lumayan
jauh, ada kali satu kilo mah. Jadi kayak jalan pintasnya gitu, gak ada angkot,
blusukan lewat gang-gang gitu.
Setelah
tiga lagu berhasil terdownload di ponselku, aku selesai berfikir (jadi waktu
berfikirku tergantung kecepatan download, fyi)
dan memutuskan untuk ikut bersama mereka. Karena aku juga salah satu penggila
seblak, dan aku belum pernah nyobain seblak dan tergoda juga karena temanku
bilang seblaknya enak.
Dengan
bismillah, eak, kami berlima mulai jalan. Pertamanya biasa, jalan ditemani
obrolan ringan. Sampai saat kita pada pertigaan, ada sedikit perdebatan disana.
Nawaal ingin belok ke kiri karena suatu hal, dan dia pun menambahkan alasan
lewat jalan itu akan jadi lebih dekat jaraknya. Tapi dua temanku nggak setuju.
Mereka pengen tetep lurus aja. Ya jadi debat bentar disitu, agak buat keributan
dan sempet ngalangin jalan sih, wkwkwk. Aku mah di situ diam aja, sama temanku
satu lagi. Gak mihak Salah satunya karena aku gak tahu apa-apa soal jalan
disini.
Tapi
saudara-saudara, akhirnya Nawaal memenangkannya. Kita mengalah dan mengikutinya
berbelok ke kiri. Ternyata eh ternyata, ia
hanya ingin melewati jalan itu karena di jalan itu ada rumah doinya yang
sekrang udah pindah ke Padang dan rumahnya pun udah dijual jadi tempat laundry. Ngakak nggak sih??? Aku
tanya deh, ngakak nggak sih?? Wis edan
koe Waaaaal…..
Dan
selanjutnya, kita jalan berkelak kelok kelaur masuk gang. Kata kalian tambah
jauh atau deket sih? Bukannya kalau belok-belok tuh tambah jauh ya? Iya nggak
sih? Aku bener nggak sih? Sepertinya sih bener ya, tapi alhamdulillahnya kita
dapat menahan emosi dan nggak ngeroyok Nawaal pada saat itu juga.
Sampai
di Grage kita memutuskan masuk dulu ke Gramed karena kita juga belum terlalu
laper dan masih terlalu pagi untuk makan siang. Btw, tadi perjalanannya 45 menit yang harusnya 30 menit saja, huh
-__-.
Dan,
kita akhirnya beli seblaknya yang ternyata harganya lebih mahal dari yang aku
kira. Dan pas-passan uangku juga. Itu tapi rasa seblaknya biasa aja sebenernya.
Hampir sama kayak seblak lainnya.
Tapi bukan itu inti dari 900 kata
diatas. Aku hanya ingin bilang bahwa, kebersamaan membawa kebahagiaan. Awalnya
aku mengira akan pingsan di jalan karena kelelahan. Tapi nyatanya, aku terus
mengobrol dan tertawa, sehingga aku lupa bahwa kondisiku sedang tidak
memungkinkan. Itu keajaiban.
Dan
lain ceritanya kalau aku baru beli seblak disitu sendirian. Kalau aku baru pertama kali beli seblak itu
sendirian, mungkin akan ada rasa menyesal dan kesal, karena harganya mahal tapi
rasanya sama saja dengan seblak lainnya. Tapi saat itu, aku enjoy saja, tak ada marah dan lelah,
karena aku bersama-sama. Itu keajaiban kedua.
Tapi
minggu-minggu ini, aku selalu merasa sendiri, aku merasa tak punya teman hanya sekedar
untuk untuk ditanyakan kabar. Dia yang
selalu aku tunggu tak pernah datang. Pun aku tak ingin menghampirinya, aku
bukan orang seperti itu. Padahal kenyataannya. Setiap hari ia pasti banget
butuh bantuanku, bergantung padaku. Bukan aku tidak ikhlas membantunya, tapi
tak adakah sedikit rasa iba, eh tidak aku tidak ingin dikasihani. Tak adakah
rasa ingin membalas budi lah istilahnya. Aku pun bingung. Bingung apa yang ada
di fikirannya.
Mereka,
orang-orang tempatku berbagi cerita, tak lagi ada. Bener-bener rasanya mereka
hilang. Padahal jarak sebenarnya tidak lebih dari dua meter!
Maaf
jadi ganti sesi curhat begini, aku cuma gapunya siapa-siapa lagi. Beneran.
Menyedihkan benar. Tapi aku jamin kalian
gak akan pernah melihat sisi termewek-mewekku ini di dunia nyata.
Yang
lagi menjomblo,
@Syafitrir
Komentar
Posting Komentar